0
Dikirim pada 23 Mei 2016 di Pendidikan

Pengertian Peribahasa adalah kalimat atau kelompok kata yang tetap susunannya, dan mengiaskan suatu maksud tertentu. Susunan kata di dalam pribahasa bersifat tetap. Sebab, jika diubah, susunan kata itu tidak lagi dapat dikatakan peribahasa, melainkan sebagai kalimat biasa.

ciri ciri :

-cerminkan watak bangsa
-mendukung isi tepat
-menyembunyikan ungkapan kata2 kasar
-pribahasa merangkumi simpulan bahasa
-sikap/perasaan yang suka meninggikan diri

Contoh Peribahasa :

  • Ada nyawa, nyawa ikan (Masih bernapas, tetapi sudah hampir mati)
  • Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam (Dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan, sebaiknya menurut aturan yang berlaku)
  • Adat berunding di atas rumah (Jangan membicarakan sesuatu yang penting di sembarang tempat)
  • Adat dijunjung, lembaga disanjung, pusaka sama dijaga (Adat istiadat harus dihormati dan djaga kelestariannya)
  • Adat dunia balas berbalas (Setiap perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal)
  • Adu lidah (Saling berbantah)
  • Air dingin juga bisa memadamkan api (Kata-kata yang lemah lembut dapat melunakan orang yang sedang marah)
  • Air beriak tanda tak dalam (Orang yang banyak bicara biasanya ilmunya dangkal)
  • Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga (Sifat dan tingkah laku seseorang biasanya akan diturunkan kepada anaknya)
  • Air laut pun ada pasang surutnya (dalam kehidupan, susah dan senang datang silih berganti)
  • Air yang tenang jangan disangka tak berbuaya (Orang pendiam jangan disangka penakut atau mudah dipermainkan)
  • Bagai air di daun talas (Orang yang tidak tetap pendiriannya)
  • Seperti air dalam kolam (Orang yang selalu tenang dalam sikap dan perilaku)
  • Bagai air di daun keladi (Ajaran atau nasihat yang baik, tidak akan berguna bagi mereka yang tidak mau menerimanya)
  • Belajar ke yang pintar, berguru ke yang pandai (Menuntut ilmu lebh baik kepada orang yang berilmu dan pengetahuan dan kaya akan pengalaman)
  • Itik diajar berenang (Mengajar orang yang memiliki lebih banyak pengalaman)
  • Kurang tunjuk kurang pengajar (Kurang mendapatkan pendidikan dan pengajaran)
  • Akal tak sekal timbul, pikiran tak sekali datang (Setiap usaha membutuhkan perjuangan, tidak ada yang langsung jadi)
  • Hidup berakal, mata beriman (hendaknya kita mempunyai panjang akal dalam memecahkan masalah)
  • Hidup bagaikan akar benalu (Orang yang hidupnya menggantungkan pada oran lain)
  • Kian lama kian berakar (makin lama makin berkuasa, makin lama makin kuat posisi atau keberadaannya)
  • Tiada akar rotan pun jadi (Jika terpaksa, apapun bisa dipergunakan dan dimanfaatkan)
  • Alah bisa karena biasa (Bagamanapun sukarnya suatu pekerjaan, jika dikerjakan dengan sungguh-sunguh pasti terselesaikan)
  • Alang berjawab, tepuk berbalas (Segala perbuatan akan mendapat balasan yang setimpal)
  • Berbilang dari esa, mengaji dari alif (Dalam mengerjakan sesuatu, hendaknya menuruti aturan yang ada)
  • Tidak tahu di alif (Tidak dapat membaca)
  • Bagai alu pencungkil duri (Melakukan sesuatu yang tidak mungkin berhasil)
  • Alu patah lesung hilang (Orang yang tertimpa brbagai musibah)
  • Rusak anak karena menatu (Orang yang telah dipercayai, merusak orang yang telah mempercauainya)
  • Belum beranak sudah ditimang (menganggap dirinya sudah menguasai sesutu, padahal persyaratannya belum mencukupi)
  • Bagaikan api dalam sekam (Perbuatan jahat yang tak tampak)

Contoh lainnya bisa anda lihat di kamus online kamusperibahasa.com



Dikirim pada 23 Mei 2016 di Pendidikan
comments powered by Disqus
Profile

“ Haji/Hajjah Eka Rahayu ini masih belum mau dikenal orang, mungkin masih malu. “ More About me

Page
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 5.663 kali


connect with ABATASA